MENULIS ILMIAH, MEMBUAT LAPORAN & MAKALAH

MENULIS ILMIAH, MEMBUAT LAPORAN & MAKALAH

 

AGUNG SEDAYU

JURUSAN BIOLOGI FMIPA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

 

Dalam dunia sains banyak cara dan format dalam membuat laporan ilmiah. Ilmu-ilmu sosial menggunakan cara yang cukup berbeda dengan yang sering dilakukan oleh praktisi di ilmu-ilmu alam dan matematika. Bahkan dalam ilmu-ilmu yang berhubungan dengan biologi banyak dikenal cara penulisan ilmiah, dalam dunia kedokteran dan biologi, misalnya, memiliki aturan dan format yang cukup berbeda.

 

I.          KALIMAT EFEKTIF

Dalam membuat laporan, ada prinsip untuk menggunakan kalimat efektif. Kalimat yang efektif memberikan efek informasi yang jelas dan lugas bagi pembaca. Antar kata dalam kalimat memiliki hubungan yang runut mulai dari awal hingga akhir kalimat. Antar kalimat juga memiliki hubungan yang kuat, saling berkaitan dan saling bersambung. Biasanya kalimat ditulis dalam susunan yang sederhana, tidak terlalu panjang, dengan jumlah kata sekitar sepuluh kata tiap kalimat. Bandingkan kalimat berikut:

 

[Judul laporan: ANALISIS KUALITAS AIR BERDASARKAN INDEKS KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PANTAI BAMA TAMAN NASIONAL BALURAN SITUBONDO JAWA TIMUR]

Keanekaragaman menunjukkan keberadaan suatu jenis dalam suatu komunitas di dalam ekosistem. Tingginya keanekaragaman menunjukkan keberadaan suatu ekosistem yang seimbang dan memberikan peranan yang besar untuk menjaga keseimbangan terhadap kejadian yang merusak ekosistem. Beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keanekaragaman yaitu, faktor fisika: intensitas cahaya, suhu, angin, kedalaman, substrat dan arus. Faktor kimia: pH, oksigen terlarut, karbon-dioksida bebas, salinitas dan unsur hara. Faktor biologi yaitu organisme pemangsa dan pesaing.

 

Dengan

 

Angka keanekaragaman menunjukkan banyaknya jenis dalam suatu komunitas pada sebuah ekosistem. Tingginya angka keanekaragaman menunjukkan keseimbangan sebuah ekosistem dan kemampuan ekosistem tersebut menyeimbangkan diri saat terjadi kerusakan atau bencana.  Di perairan laut, faktor-faktor lingkungan berhubungan dengan keanekaragaman dan pertumbuhan komunitas plankton. Faktor fisika yang paling penting adalah intensitas cahaya, suhu, arah dan kecepatan angin, kedalaman, jenis substrat dan arus. Faktor kimia yang paling penting adalah pH air, oksigen terlarut, karbon dioksida bebas, salinitas dan unsur hara. Sedangkan faktor biologi yang penting adalah jenis-jenis pemangsa dan pesaing.

 

II.       TULISAN DESKRIPTIF, BUKAN NARATIF ATAU PERSUASIF

Menulis sebuah laporan atau makalah ilmiah berbeda dalam menulis sebuah cerpen dari cara penulisan. Dalam laporan yang baik, penulis menggunakan kalimat-kalimat yang mendeskripsikan hasil penelitian, bukan yang berbentuk narasi atau persuasi. Pada tulisan deskriptif, penulis jarang memperlihatkan suasana emosi seperti yang sering terlihat pada tulisan narasi atau persuasi. Pada tulisan deksriptif  hampir seluruh bagian berisi hal-hal yang yang ditangkap oleh indera atau hasil pengamatan.

 

 

III.       PENGGUNAAN KATA ASING, PENULISAN NAMA-NAMA BIOLOGI

 

Kata Asing

Kata asing yang tidak terdapat dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dapat digunakan untuk menulis laporan ilmiah, dengan syarat kata tersebut dicetak miring. Misal:

 

Aspergillus dan Rhizopus adalah dua jenis mikroorganisme yang umum tumbuh pada makanan yang membusuk. Kelompok kami menduga hal ini karena spora dua jenis makhluk hidup tersebut merupakan spora yang viable walaupun tidak ditransportasikan melalui medium cairan.

 

Perhatikan bahwa jika ada kata dalam bahasa Indonesia yang baku, sebagai alternatif dari kata asing yang akan digunakan, maka kata tersebut wajib dipakai, misal penggunaan kata “suhu” dibandingkan “temperatur” atau kata “wasir” dibandingkan “ambeien”. 

 

Prinsip pemanfaatan kata bahasa Indonesia baku berlaku juga dalam penamaan kategori dalam taksonomi, sehingga:

Kata kerajaan menggantikan kingdom

Kata kelas menggantikan class/classis

Kata bangsa menggantikan ordo

Kata suku menggantikan familia

Kata marga menggantikan genus

Kata jenis menggantikan spesies

Kata anak-jenis menggantikan sub-spesies

 

 

Nama Jenis

Nama jenis (engl: species) mengikuti aturan binomial, dan dicetak miring. Jika tidak menggunakan komputer, maka nama jenis digaris bawah. Contoh:

Pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa marga Pongo seluruhnya adalah makhluk yang hidup pada siang hari (diurnal). Baik P. abelii maupun P. pygmaeus tidak terlihat melakukan aktivitas setelah terbenamnya matahari.

 

Perhatikan bahwa nama marga dan nama jenis harus tepat sesuai dengan nama yang valid, dan tidak diperkenankan salah penulisan, walaupun salah satu huruf. Perhatikan juga bahwa apabila nama jenis ditulis dengan dua huruf “i” dibelakang, maka harus ditulis dengan dua “i” dan dibaca dengan dua “i” [‘Cycas rumphii’ atau ‘Pinanga kuhli-i].

 

 

IV.             TABEL

Tabel berisi daftar jenis disusun (di-sort) berdasarkan urutan suku, marga dan jenis. Judul sebuah tabel dicantumkan di atas badan tabel. Keterangan tabel wajib dicantumkan. Keterangan dapat dituliskan bersama-sama judul tabel, atau di bawah badan tabel, sesuai urutan abjad. Contoh:

 

 

 

 

 

Tabel 1. Jenis-jenis pteridofita terestrial yang hidup di sekitar Lembah Harau. D: nilai dominansi; DR: dominansi relatif; DOM: dominansi; DOM R: dominansi relatif; F: frekuensi; FR: frekuensi relatif; INF: indeks nilai penting (300%); L: Divisi Lycofita (= Lycophytes, Smith dkk. 2006). Baris yang diarsir adalah jenis dengan INP terbesar; Cibotium barometz, Selaginella wildenowii & Cyathea latebrosa.  Klasifikasi berdasarkan Smith dkk. 2006.

 

SUKU

JENIS

D

D R

F

F R

DOM

 DOM R

INP

Aspleniaceae

Asplenium borneense

0.108

0.214

6

0.095

0.009

0.016

0.326

Asplenium glaucophyllum

0.078

0.154

9

0.143

0.017

0.032

0.329

Cyatheaceae

Cibotium barometz

0.061

0.12

17

0.27

0.382

0.716

1.106

Cyathea contaminans

0.004

0.008

1

0.016

0

0

0.024

Cyathea latebrosa

0.051

0.102

10

0.159

0.07

0.132

0.392

Dipteridaceae

Dipteris conjugata

0.002

0.004

1

0.016

0

0.001

0.02

Gleicheniaceae

Gleichenia truncata

0.002

0.004

1

0.016

0.002

0.003

0.023

Lomariopsidaceae

Nephrolepis biserrata

0.004

0.008

1

0.016

0.002

0.003

0.026

Polypodiaceae

Microsorum pteropus

0.038

0.075

3

0.048

0.024

0.045

0.167

Pyrrosia angustata

0.021

0.041

4

0.063

0.008

0.016

0.12

Selaginellaceae (L)

Selaginella wallichii

0.008

0.015

1

0.016

0.001

0.002

0.033

Selaginella willdenowii

0.127

0.252

8

0.127

0.014

0.027

0.406

Thelypteridaceae

Christella dentata

0.002

0.004

1

0.016

0.004

0.007

0.027

Cyclosorus javanica

0.002

0.008

1

0.016

0.004

0.007

0.027

Cyclosorus sp.1

0.002

0.008

1

0.016

0.004

0.007

0.027

Metathelypteris placida

0.002

0.008

1

0.016

0.004

0.007

0.027

Thelypteris sp. 1

0.002

0.008

1

0.016

0.004

0.007

0.027

Thelypteris sp. 2

0.002

0.008

1

0.016

0.004

0.007

0.027

!!atau:

Keterangan:

D: nilai dominansi; DR: dominansi relatif; DOM: dominansi; DOM R: dominansi relatif; F: frekuensi; FR: frekuensi relatif; INP: indeks nilai penting (300%); L: Divisi Lycofita (= Lycophytes, Smith dkk. 2006). Baris yang diarsir adalah jenis dengan INP terbesar; Cibotium barometz, Selaginella wildenowii & Cyathea latebrosa.  Klasifikasi berdasarkan Smith dkk. 2006.

 

Jika keterangan dituliskan di bawah tabel, berarti judul tabel hanya berbunyi:

Tabel 1. Jenis-jenis pteridofita terestrial yang hidup di sekitar Lembah Harau.

 

Perhatikan pada Keterangan semua singkatan disusun berdasarkan abjad, DR lebih dulu daripada F, lebih dulu dari L.

 

V.                GAMBAR

Semua foto, ilustrasi, gambar, grafik, diagram dikatakan sebagai “Gambar”. Judul gambar dicantumkan di bawah badan gambar. Keterangan dapat dituliskan bersama-sama judul gambar, atau terpisah dari judul tabel, sesuai urutan abjad. Skala untuk foto/ilustrasi wajib dicantumkan. Contoh:

 

 

 

Gambar 12. Xanthostemon natunae: A. Spesimen koleksi F.N. Rangkuti, S.M. Leksono & A. Sedayu PI0240, menunjukkan perbuahan; B. ranting dan pangkal tangkai daun dengan trikoma; C. buah kapsul dengan alur; D. Kapsul yang pecah menunjukkan tipe plasentasi. Seluruh spesimen disimpan di Herbarium Bogoriense (BO).

 

Perhatikan bahwa dalam tiap gambar penulis selalu berusaha menunjukkan skala garis, bahkan pada gambar 12 A. penulis menunjukkan skala dengan mencantumkan penggaris dalam proses pemotretan.

 

PERHATIAN!!

Baik tabel maupun gambar harus diacu dalam teks laporan, misal:

Pengamatan yang kami lakukan di Cagar Alam Muara Angke pada puncak musim migrasi burung tahun 2005—2008 menunjukkan 182 jenis burung memanfaatkan CA. Muara Angke sebagai lokasi transit (tabel 1.), dengan satu jenis baru yang tidak tercatat dalam daftar OBC 2007, yaitu Phaeton rubicauda (Gambar 14 a.)

 

Contoh lain:

Gambar 3. Diagram pemanfaatan prosentase waktu aktivitas harian monyet ekor panjang.

Keterangan: Fe: makan; Fb: makan serangga; Ff: makan buah; FI: makan daun; Fo: makan yang lain; Re: istirahat; Rs: duduk; RI: berbaring; Tel: memanjat; Tq: quadropedal; Tr: bergerak.

!!Perhatikan!! bahwa penulisan keterangan disusun berdasarkan abjad.

 

VI.             DAFTAR

Ada beberapa jenis pustaka yang dijadikan acuan dalam penulisan ilmiah. Yang paling umum dimanfaatkan adalah buku dan jurnal. Selain buku dan jurnal, abstrak juga dapat dimanfaatkan sebagai pustaka, walaupun tidak umum. Sekarang semua orang dapat memanfaatkan sumber yang diunduh dari internet, jenis pustaka ini dapat diperlakukan sebagai buku atau jurnal, tergantung bentuknya. Tidak diperkenankan untuk memanfaatkan ensiklopedia sebagai sumber pustaka, konsekuensinya, website “Wikipedia” tidak dapat dimanfaatkan sebagai pustaka!

 

Cara Mengacu (sitasi/citation)

Dalam teks laporan, baik dalam pendahuluan, cara kerja maupun pembahasan; kecuali (biasanya) kesimpulan. Dalam teks kita dapat mengacu pustaka yang daftarnya kita letakkan dalam daftar pustaka, caranya adalah: Nama keluarga, tahun: halaman bagian artikel yang diacu, misal:

 

Nilai penting relatif dari lingkungan abiotik dan penyebaran (dispersal) dalam mempengaruhi pola distribusi jenis-jenis tumbuhan adalah topik yang hangat diperdebatkan (Bell, 2001: 2415—2416, Condit, dkk. 2002: 667, Tuomisto, dkk. 2003: 283—284, Gilbert & Lechowicz, 2004: 7652, Kneitel & Chase, 2004: 70—75).

 

Perhatikan

  1. Pustaka pertama hanya terdiri dari 1 pengarang, yaitu G. Bell; dan hanya ditulis nama keluarga-nya saja, yaitu Bell.
  2. Acuan yang ditulis oleh dua orang ditulis kedua-duanya, nama keluarganya saja, misal: Gilbert & Lechowicz, 2004: 7652, yang ditulis oleh Gilbert, B. & M. J. Lechowicz. 2004.
  3. Acuan yang ditulis lebih dari dua orang hanya ditulis orang pertamanya saja, dengan tambahan kata dkk. yang dicetak miring, misal: Tuomisto, dkk. 2003, 283—284 yang merupakan hasil karya Tuomisto, H., K. Ruokolainen & M. Yli-Halla. 2003.

 

Daftar Pustaka

  1. Buku, prinsipnya: Nama belakang (semua penulis). Tahun. Judul buku (cetak miring). Penerbit, Kota terbit: jumlah halaman. Misal:

 

Backer, C.A. & R.C. Bakhuizen van den Brink Jr. 1963. Flora of Java Vol. 1. N.V.P. Noordhoff, Groningen: xiv + 677 hlm.

 

  1. Artikel dalam jurnal, prinsipnya: Nama belakang (semua penulis). Tahun. Judul artikel. Judul Jurnal, Volume(seri): halaman. Misal:

 

Eckert, A.J. & B.D. Hall. 2006. Phylogeny, historical biogeography, and patterns of diversification for Pinus (Pinaceae): Phylogenetic tests of fossil-based hypotheses. Molecular Phylogenetics and Evolution, 40(1): 166—182.

 

  1. Artikel/bab dalam buku, prinsipnya: Nama belakang (semua penulis). Tahun. Judul artikel/bab. dalam: Nama belakang editor (ed.). Tahun. Judul buku (cetak miring). Penerbit, Kota terbit, halaman bab yang diacu. Misal:

 

Partohardjono, S. & P. Swatdee. 2003. Azolla pinnata R. Br. dalam: de Winter, W.P. & V.B. Amoroso (eds.).2003. Plant resources of South-East Asia no 15 (2). Cryptogams: Ferns and fern allies, Prosea Foundation, Bogor: 64—69.

 

  1. Buku terjemahan, prinsipnya: Nama belakang (semua penulis). Tahun. Judul buku (cetak miring). Penerbit, Kota terbit. Diterjemahkan oleh (cetak miring): Penterjemah. Tahun. Judul buku terjemahan. Penerbit: jumlah halaman. Misal:

 

Heyne, K. 1927. De Nuttige planten van Nederlandsh Indie. 2nd ed. Ruygrok & Co., Batavia. diterjemahkan oleh: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia Vol. 1. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta, xxi + 499 hlm.

 

Nama pengarang

  1. Agung Sedayu jika sendirian ditulis sebagai Sedayu, A.
  2. Agung Sedayu dan Mieke Miarsyah ditulis sebagai Sedayu, A. & M. Miarsyah.
  3. Agung Sedayu, Mieke Miarsyah & Hanum Isfaeni ditulis sebagai Sedayu A., M. Miarsyah & H. Isfaeni.
  4. Pieter W. van Welzen ditulis sebagai van Welzen, P.W., namun diurutkan dalam urutan pengarang dengan huruf depan “W” bukan “v”.
  5. Daftar pustaka dibuat berdasarkan urutan alfabetis nama belakang/keluarga penulis pertama.
Blogged with the Flock Browser

0 Comment:

Poskan Komentar