Sebuah syair

Sebuah nota tersirat dari sebuah perasaan yang terjerat tanpa ada ikatan, tanpa ada haluan
Kini semua syair telah luruh oleh terpaan hujan yang tak berhenti ketika ku tatap angkasa dengan awan begumul
Amarah
Kecemburuan yang tak terbendung menghadirkan sebuah sajak tanpa tujuan
Entah untuk apa, entah untuk siapa
Semua ini hanya mengingatkan nostalgia yang tak terekam
Terhapus oleh ego tanpa perasaan
Hitam kelam, itu warnanya
Sebuah keputusan yang tepat yang sangat terlambat di sesali, apalagi di tangisi
Tinggal harapan kosong akan indahnya dicintai
Dengan tulus
Kala waktu itu ku memilih untuk berbicara
Ditemani suara gemuruh badai hingga tak terdengar
Karena sebuah alasan yang tak perlu dijadikan halangan
Jalan yang telah terbelah oleh status ego kedangkalan
Tanpa makna
Aku tenggelam tersisih termaki
Oleh hantaman pendirian dan harga diri yang sudah terpatri
Buah dari harapan dan kekecewaan yang bernyanyi dalam hati
Yang tengah telentang mati
Kini
Hanya ada diri yang mulai berlari
Kabur dari kenyataan
Kabur dari kehampaan
Kabur dari kesendirian
dan
Kabur dari kesepian

18 Desember 2010 di sudut kamar kosan itu

0 Comment:

Poskan Komentar