As a college student in Biology department, in here i try to share my knowledge about biology and everything i wanna share.
(If you or anyone don't want my post to published, please let me know so i can erase it, Thank You. )
Lingkungan: Merupakan ikan air tawar yang benthopelagic , tidak melakukan migrasi.
pH air: sekitar7-8.
Suhu air: sekitar 18 – 29oC.
Masa hidup: 3 – 5 tahun.
Asal: Amerika selatan.
Tingkah laku
Merupakan ikan air tawar yang benthopelagic. Ukuran tubuh pejantan lebih kecil dari sang betina namun memiliki ekor yang berwarna-warni. Ikan ini juga bias hidup pada air payau. Ikan menunjukan parental care yaitu sang betina merupakan live bearer. Namun, mereka akan memakan anak mereka selagi bisa.
Reproduksi
Sirip anal Poecilia reticulata pejantan termodifikasi menjadi gonopodium untuk pembuahan internal. Sang pejantan akan secara kontinyu mengejar sang betina, lalu sang betina akan menyimpan sperma untuk pembuahanyang akan terjadi yang biasanya berlangsung sekitar 4 minggu sekali. Betina yang telah “hamil” bisa di kenali dari tanda hitam di antara pinae analis dan pinna pectoralis yang dikenal dengan nama gravid spot. Masa gestrasi sekitar 4 hingga 6 minggu dan akan muncul 20-40 individu baru.
Penyebaran/Habitat
Tersebar di negara-negara tropis seperti Brazil, Guyana, Venezuela, dansekitar kepulauan karibia. Namun, sudah di perkenalkan ke Asia , Eropa dan Afrika.
Mereka biasanya ditemukan sungai mengalir, got, kolam, kanal dll, selama tidak ada predator disekitarnya.
Makanan
Di alam memakan zooplankton, serangga kecil dan detritivor. Pada serangga kecil biasanya makan: ceratopogonid, chironomid, culicid, dipteran, hemipteran, and hymenopteran. Jika pada akuarium akan memakan alga dan pelet ikan.
Manfaat
Biasanya di jadikan ikan hias dan menjadi sampel percobaan genetika. Walau ada juga yang menjadikannya sebagai pengontrol nyamuk walau tidak terbukti secara ilmiah.
Lipida adalah senyawa organic berminyak atau berlemak yang tidak larut dalam air, yang dapat di ekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti kloroform, atau eter.
Jenis lipida yang paling banyak adalah lemak atau triasilgliserol, yang merupakan bahan bakar utama bagi hampir semua organisme.
Lipida polar, golongna lipida yang lain, adalah komponen utama membrane sel, yaitu “tempat” terjadinya reaksi-reaksi metabolik.
Asam lemak adalah kompnen unit pembangun hampir semua lipida.
Terdapat beberapa kelas lipida, masing-masing memiliki fungsi biologi spesifik:
-Asam lemak: Komponen unit pembangun yang khas pada kebanyakan lipida. Asam lemak adalah asam organik yang berantai panjang yang mempunyai atom karbon dari 4 sampai 24; asam lemak memiliki gugus karboksil tunggal dan ekor hidrokarbon nonpolar yang panjang yang menyebabkan kebanyakan lipida bersifat tidak larut di dalam air dan tampak berminyak atau berlemak. Asam lemak tidak terdapat secara bebas atau berbentuk tunggal di dalam sel atau jaringan, tetapi terdapat dalam bentuk yang terikat secara kovalen pada berbagai kelas lipida ang berrbeda; asam lemak dapat dibebaskan dari ikatan ini oleh hidrolisis kimia atau enzimatik. Banyak jenis-jenis asam lemak yang telah diisolasidari lipida dari berbagai spesies. Hampir semua asam lemak di alam memiliki jumlah atom karbon yang genap; asam-asam lemak dengan 16-18 atom karbon adalah yang paling dominan. Ekor hidrokarbon yang panjang mungkinjenuh sepenuhnya, yaitu, hanya mengandung ikatan tunggal, atau bagian ini mungkin bersigat tidak jenuh dengan satu atau lebih ikatan ganda. Pada asam lemak yang mengandung dua atau lebih ikatan ganda, ikatan ganda tersebit tidak pernah terkonyugasi (-CH=CH-CH=CH-) tetapi terpisah oleh gugus metilen:
-CH=CH-CH2-CH=CH-. Asam lemak yang dijumpai bersifat tidak larut di dalam air, tetapi dapat terdispersi menjadi misel di dalam NaOH dan KOH encer yang mengubah asam lemak menjadi sambun.
-Triasilgliserol adalah lipida paling sederhana dan paling banyak mengandung asam lemak sebagai unit penyusun juga sering disebut lemak, lemak netral atau trigliserida. Triasilgliserol adalah ester dari alkohol gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Triasilgliserolmudah larut di dalam pelarut non polar seperti chloroform, benaena atau eter yang seringkali dipergunakan untuk ekstraksi lemak dan jaringan. Hidrolisis triasilgliserol oleh KOH dan NaOH disebut penyabunan (pembentukan sabun), menghasilkan suatu campuran sabun K+ atau Na+ dan gliserol. Triasilgliserol yang tidak jenuh jika terkena cenderung mengalami proses autooksidasi (molekul oksigen dapat bereaksi dengan asam lemak menyebabkan ketengikan).
-Triasilgliserol adalah lipida penyimpan.
-Lilin adalah ester asam lemak dengan alcohol berantai panjang yang jenuh dan tidak jenuh (mempunyai 14 sampai 36 atom karbon) dengan alcohol berantai panjang ( mempunya atom karbon 16 sampai 22)
-Fosfolipida adalah komponen utama lipida membrane. Golongan ini berbeda dengan triasilgliserolkarena mempunyai satu atau lebih gugus ‘kepala’ dengan polaritas tinggi selain ekor hidrokarbonnya. Karena itulah golongan ini disebut lipida polar. Lipidan membrane yang paling banyak adalah fosfolipida. Fosfolipida yang mengandung dua molekul asam lemak yang berikatan ester dengan gugus hidroksil pertama dan kedua pada gliserol.Gugus hidroksil yang ketiga pada gliserol membentuk ikatan ester dengan asam fosfat. Selain itu, fosforgliserida mengandung molekul alcohol kedua yang juga berikatan ester dengan fosfat. Karenanya, gugus alcohol kedua ini terletak pada kepala polar dari molekul fosfogliserida. Jenis fosfogliserida yang berbeda dinamakan menurut jenis alcohol pada kepala yang bersifat polar. Senyawa induk fosfogliserida adalah asam fosfatidat yang tidak memiliki kepala alcohol. Fosfogliserida yang paling banyak adalah senyawa-senyawa yang hampir serupa fosfatidiletanolamin dan fosfatidilkholin yang mengandung alcohol etanolamin dan kholin berturut-turut pada bagian kepala yang besifat polar.
-Fosfolgliserida lain termasuk fosfattidilserin, mengandung asam hidroksiamin serin sebagai gugus pada kepalanya dan fosfatilinositol, yang mengandung alcohol siklik inositol. Kardiolipin yang ditemukan secara khas pada membran mitochondria sebelah dalam, berbeda dari jenis fosfogliserida lain, senyawa ini merupakan fosfogliserida “ganda”. Semua fosfogliserida mempunyai muatan negatif pada gugus fosfat, pada pH 7. Selain itu, gugus alcohol pada bagian kepala juga dapat memberikan satu atau lebih muatan listrik pada pH mendekati 7. Jadi, fosfogliserida yang mempunyai dua jenis gugus yang amat berbeda, yaitu gugus hidrofilik pada kepala yang bersifat polar dan ekor hidrofobik yang berrsifat nonpolar. Senyawa ini , karenanya bersifat ampifatik. Fosfolgliserida mengalami hidrolisis jika dipanaskan dengan asam atau basa, untuk mengahasilkan komponen unit penyusunnya: asam lemak, gliserol, asam fosfatdan alkoholpada bagian kepala. Senyawa ini dapat juga dihidrolisa secara enzimatik oleh berbagai jenis fosfolipase yang menkatalisa hidrolisis ikatan spesigik pada molekul fosfogliserida.
Spingolipid juga merupakan komponen membrane. Spingolipid, kelas kedua terbesar dari lipida membrane juga mempunyai kepala yang bersifat polar dan dua ekor nonpolar tetapi senyawa ini tidak mengandung gliserol. Spingolipid tersusun atas satu molekul alcohol amino berantai panjang spingosin atau satu di antara senyawa turunannyadan suatu alcohol polar pada bagian kepala. Spingosin adalah senyawa induk dari sejumlah alcohol amino berantai panjang yang ditemukan pada berbagai spingolipid.Pada mamalia, spingosin dan dihidrospingosin adalah senyawa yang paling banyak. Pada singolipid, gugus polar kepala terikat pada gugus hidroksil spingosin dan komponen asam lemaknya membentuk suatu ikatan amida dengan gugus amino. Terdapat tiga subkelas spingolipid: Spingomieling, serebrosida, dan gangliosida.
S.Jonathan singer dan Garth Nicolson menyampaikan postulat suatu teori gabungan dari struktur membrane yang yang disebut model fluida mosaic pada tahun 1972. Mereka menyarankan bahwa bagian matriks atau bagian yang berkesinambungan dari struktur membrane adalah lapusan ganda lipida polar. Lapisan ganda tersebut bersifat fluida karena imbang dari asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang bersifat fluida pada suhu normal sel. Model fluida mosaic mengusulkan bahwa protein integral membrane memiliki gugus R asam amino tang bersifat hidrofobik pada permukaan protein yang akan menyebabkan protein tersebut me-“larut” di dalam bagian hidrofobik di tengah-tengah lapisan ganda. Di lain pihak model ini menyarankan bahwa protein membrane peripheral atau ekstrinsik sesungguhnya memiliki gugus R hidrofilik pada permukaannya yang terikat oleh gaya tarik elektrostatik dengan bagian kepala polar dari lipida lapisan ganda yang bersifat hidrofilik dan bermuatan listrik. Protein integral membrane yang meliputi enzim dan system transport bersifat inaktif kecuali jika protein ini ditempatkan di dalam inti hidrofobik dari lapisan ganda yang menghasilkan konformasi tiga dimensi yang sesuai dengan aktivitasnya. Kembali, perhatikan bahwa tidak terdapat ikatan kovalen di antara molekul lipida pada lapisan ganda atau di antara komponen protein dan lipida.
Model fluida mosaic selanjutnya membiarkan protein membrane bergerak lateral. Protein peripheral mengapung pada permukaan “lautan” lapisan ganda, sedangkan protein integralnya seperti gunung es, hamper seluruhnya terbenam di dalam inti hidrokarbon. Capping adalah pergerakan protein membrane yang bergerak secara lateral pada lapisan ganda. Model Singer-Nicolson dapat menerangkan banyak sifat2 fisik, kimia dan biologi membrane dan telah diterima luas sebagai susunan molekular lipida dan protein yang paling mungkin pada membrane.
Membran mempunyai Asimetri Spesifik
Membran sel Darah Merah Telah Diperlajari Secara Terinci
Di Antara protein integral dari membrane sel darah merah terdapat glikoforin (pembawa gula) Pada ujung rantai polipeptidanya terdapat kepala yang bersifat kompleks dan hidrofilik terdiri dari mungkin sampai 15 cabang oligosakarida masing2 10 unit gula. Pada ujung lain polipeptida glikoforin terdapat banyak residu asam glutamate dan aspartat yang bermuatan negatif pada pH 7. Kepala glikoforin yang kaya akan gula mengandung antigen golongan darah pada organisasi. Bagian ini juga mengandung sisi tempat melekatnya beberapa virus penyebab penyakit.
Protein utama lainnya dari membrane sel darah merah adalah spektrin, suatu protein periferi atau ekstrinsik pada permukaan sebelah dalam membrane yang menyusun sampai lebih dari 20 persen dari total protein membrane. Protein ini terdiri dari empat rantai polipeptida. Molekul spektrin mengikat molekul protein dan lipida tertentu secara spesifik pada permukaan dalam membrane sel darah merah membentuk suatu jaringanseperti batang yang fleksibel, pada permukaan sebelah dalam yang agaknya berperan sebagai mikrofilamen dan aktin yang mengikat batang2 spektrin bersama-sama.
Glikoprotein membrane yang utama lainnya yang terdapat pada permukaan luar sel di dalam banyak jaringan padatan adalah fibroinektin dengan sifat merekat yang amat kuat yang agaknya menyebabkan sel2 sejenis pada jaringan padat tersebut saling berlekatan.
Lektin adalah Protein spesifik yang mampu mengikat atau menggumpalkan sel-sel tertentu
Sejak ditemukan protein tanaman yang dinamakan fitohemaglutinin dapat mengikat dan menggumpalkan sel darah merah. Maka dengan itu juga dapat mengikat sel hewan lainnya. Lektin terutama banyak dijumpai pada tumbuhan khusunya pada keluarga legume dan juga ditemukan pada banyak jaringan invertebrate. Konkanavalin A dari kacang “jack” dan risin pada biji jarak merupakan dua di antara hemaglutininyang pertama-tama di temukan. Protein ini dan banyak protein dari tumbuhan dan hewan lainnya yang mampu berikatan dengan permukaan sel disebut lektin ( bahasa lating “legere” yang berarti mengambil atau memilih) karena protein ini mengikat gugus karbohidrat spesifik tertentu pada permukaan sel. Sebagai contoh konkanavalin A mengikat residu D-glukosa dan D-manosa sedangkan lektin kacang kedelai mengikat D-galaktosa dan N-asetil-Dgalaktosamin. Lebih dari 100 lektin telakh diidentigikasi yang paling menyolok adalah bahwa beberapa lektin cenderung menggumpalkan sel tumor pengganggu. Oleh karena itu, sel tumor seharusnya memiliki struktur permukaan yang berbeda dari sel normal; residu karbohidrat spesigik tempat lektin berikatan agaknya lebih terbuka pada permukaan sel tumor.
Lektin tumbuhan dan invertebrate agaknya merupakan protein defensive yang melindungi organism ini, yang tidak memiliki system imun dan karenanya tidak memiliki antibody terhadap terhadap serangan parasit microbial. Lektin mungkin terletak pada permukaan sel tanaman.
Membran memiliki fungsi yang amat kompleks
Pada permukaan sebelah luar, membrane juga mengandung sisi pengenalan spesifik , sekelompok struktur yang terlihat nyata, yang berfungsi untuk mengenali isyarat molecular tertentu. Sebagai contoh, membrane beberapa bakteri dapat merasakan suatu perbedaan kecil dalam konsentrasi nutrient yang merangsang bakteri tersebut bergerak kearah sumber nutrient. Fenomena ini disebut kemotaksis. Permukaan luar membrane sel hewan mengandung sisi yang mengenali sel lain yang sejenis, menyebabkan penggabungan sel selama perkembangan yang teratur pada struktur jaringan jenis sisi pengenalan yang lain pada permukaan sel bergungsi sebagai reseptor spesigik bagi molekul hormone.
1.4.1 Change of cell structure during tropistic responses
Circular arrays of microtubules and microfilaments, as well as the microfibril pattern at the subapical portion of protonemata, change during phototropism (Wada et al., 1990;Kadota and Wada, 1992a, 1992b). When polarotropism was induced by polarized red light vibrating 45. to thecell axis, the cortical array of microtubules became oblique within 30 minutes after irradiation to the direction of bending, but if the vibration plane was 70.,themicrotubule array disappeared. After 1 hour, the tropistic response could be observed using a microscope. By 2 hours after polarotropism induction, the microfibril rearrangement of the innermost layer of the cell wall became oblique to the former growing axis (Wada et al., 1990). During phototropism, reorganization of the microfilament structure precedes that of the microtubule structure (Kadota and Wada, 1992a), suggesting that the microtubule array is influenced by the microfilament array. Interestingly, this hypothesis was confirmed by experiments using cytoskeletal inhibitors (Kadota and Wada, 1992b). Colchicine and amiprophosmethyl disrupted the microtubule array but not the microfilament array. In contrast, cytochalasin B disrupted both arrays, indicating that the microtubule array depends on the array of microfibrils. Taken together, phototropism and polarotropism must occur through sequential changes: the microfilament array controls the direction of the microtubule array, which controls the direction of microfibril arrangement, and finally microfibrils restrict the cell diameter and the direction of cell growth.
1.4.1 Change of cell structure during tropistic responses
Circular arrays of microtubules and microfilaments, as well as the microfibril pattern at the subapical portion of protonemata, change during phototropism (Wada et al., 1990;Kadota and Wada, 1992a, 1992b). When polarotropism was induced by polarized red light vibrating 45. to thecell axis, the cortical array of microtubules became oblique within 30 minutes after irradiation to the direction of bending, but if the vibration plane was 70.,themicrotubule array disappeared. After 1 hour, the tropistic response could be observed using a microscope. By 2 hours after polarotropism induction, the microfibril rearrangement of the innermost layer of the cell wall became oblique to the former growing axis (Wada et al., 1990). During phototropism, reorganization of the microfilament structure precedes that of the microtubule structure (Kadota and Wada, 1992a), suggesting that the microtubule array is influenced by the microfilament array. Interestingly, this hypothesis was confirmed by experiments using cytoskeletal inhibitors (Kadota and Wada, 1992b). Colchicine and amiprophosmethyl disrupted the microtubule array but not the microfilament array. In contrast, cytochalasin B disrupted both arrays, indicating that the microtubule array depends on the array of microfibrils. Taken together, phototropism and polarotropism must occur through sequential changes: the microfilament array controls the direction of the microtubule array, which controls the direction of microfibril arrangement, and finally microfibrils restrict the cell diameter and the direction of cell growth.
Dewasa ini banyak sudah hasil laut yang di pakai untuk pangan, aksesoris atau pun kosmetik yang membuat organisme-organisme di lautan semakin berkurang atau bahkan mendekati punah, namun apakah kita tahu spesies apa saja yang ada di lautan dan apa saja manfaat dan ancaman yang ada, apalagi Indonesia adalah negara bahari yang mempunyai lautan yang luas. Untuk itu maka kami sebagai mahasiswa biologi akan membuat makalah yang memjelaskan tentang salah satu filum yang hidup di laut maupun air tawar.
Makalah ini berjudul ” Zoologi Invertebrata, Cnidaria ”, sesuai judulnya maka kami akan memaparkan tentang filum Cnidaria yang mempunyai kelas Scypozhoa, Hydrozoa, Cubozoa dan Anthozoa dan masih ada lagi sub kelas – sub kelas yang lainnya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar para pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang salah satu filum yang ada di dunia biologi dan disini kami penulis akan menjelaskan tentang filum Cnidaria.
BAB II. MATERI
2.1 TAKSONOMI
Domain: Eukarya
Kerajaan: Animalia
Filum: Cnidaria
Kelas:
1. Hydrozoa: Bangsa: Actinulida
Chondrophora
Hydroidea: Subbangsa:
Anthomedusae : Hydra
Leptomedusae: Obelia,
Setularia
Limnomedusae
Milleporina: karang api
Siphonophora: Physaria
Stylasterina
Trachylina: Subbangsa:
Laingiomedusae
Narcomedusae
Trachymedusae
2. Anthozoa: - Subkelas Oktocorallia
Bangsa : Stolonifera: karang organ
pipa
Telestacea
Gorgonacea: fans laut,
cambuk laut
Alcyonacea: karang lunak
Helioporacea (Coenothecalia)
Pennatulacea
- Subkelas Ceriantipatharia
Bangsa: Antipatharia: karang hitam
Ceriantharia:anemon
tabung
- Subkelas Hexacoralia
Bangsa: Actiniaria: anemon laut
Corallimorpharia: koral seperti
anemon
Ptychodactiaria
Scleractinia (Madreporaria): koral berbatu
Zoanthinaria (Zoanthidea): koloni
Anemon laut
Seperti hewan
3. Scyphozoa : Bangsa: Coronatae
Rhizostomae
Semaeostomeae: Aurelia
Stauromedusae
4. Cubozoa: Bangsa: Cubomedusae (Carybdeidae)
: Chirodropidae
2.2 MORFOLOGI
Cnidaria termasuk ke dalam hewan yang memiliki simetri radial. Hewan radial hanya memiliki bagian dorsal (atas) dan bagian ventral (bawah) atau bagian oral (mulut) dan bagian aboral, tapi tidak ada bagian anterior (kepala) dan posterior (ekor).
Bentuk tubuh dasar hewan Cnidaria terdiri dari dua variasi, yaitu polip dan medusa yang secara bergantian terjadi pada siklus hidupnya. Polip adalah bentuk seperti tabung yang menetap dan menempel pada substrat, seperti batu, dibagian aboral (berlawanan dengan mulut) pada tubuhnya. Pada bagian atas terdapat mulut dan anus yang menjadi satu sebagai tempat makan dan pengeluaran limbah. Organ ini dikelilingi oleh tentakel. Tentakel menghadap ke atas dan ke luar. Karena menempel pada substrat, polip bersifat pasif dalam mencari makanan dan menggunakan tentakel untuk menangkap mangsa. Pada umumnya ketika berbentuk polip, Cnidaria akan bereproduksi secara aseksual. Membentuk koloni (jika progeninya tetap melekat satu sama lain) atau klon (jika terpisah progeninya). Polimorfisme terjadi di koloni dari beberapa spesies hydrozoa dan anthozoa, dimana polipnya memiliki fungsi-fungsi yang khusus seperti mencari makan, pertahanan diri, dan reproduksi aseksual. Beberapa koloni polip, yang dilengkapi dengan tentakel berfungsi untuk mengambil makanan dan sebagai alat pertahanan diri. Polip lain yang tidak bertentakel dikhususkan untuk bereproduksi dengan menghasilkan medusa kecil melalui pertunasan secara aseksual. Ukuran Cnidaria polip tidak lebih dari satu milimeter atau lebih, namun bila berbentuk koloni dapat mencapai satu meter lebih untuk diameternya. Contoh Cnidaria dalam bentuk polip adalahhydra dan anemon laut. Sedangkan medusa, berbentuk hampir sama dengan polip hanya letak mulut / anus berada di bawah. Berbeda dengan polip, medusa dapat bergerak bebas di air karena terbawa air atau proses kontraksi tubuhnya yang berbentuk seperti lonceng. Cnidaria medusa akan bereproduksi seksual menghasilkan larva yang bermetamorfosis menjadi polip.Dengan demikian, pada dasarnya polip adalah fase anak dan medusa adalah bentuk dewasa. Contoh Cnidaria dalam bentuk medusa adalah ubur – ubur. Tidak semua hewan Cnidaria melewati kedua tahapan bentuk tersebut. Kebanyakan jenis Cubozoa, Hyrozoa, dan Scyphozoa yang melewati tahap polip dan medusa, sedangkan Anthozoa hanya berbentuk polip dan tidak memiliki tahap medusa.
2.3 ANATOMI
Hewan Cnidaria termasuk hewan diploblastik. Cnidaria menunjukkan penyusunan lapisan sel yang lebih rumit daripada porifera. Tubuh mereka memperlihatkan adanya dua lapisan yang berbeda. Oleh karena itu, mereka dinamakan hewan diplopblastik. Dua lapisan tersebut adalah epidermis atau ektodermis pada bagian luar dan gastrodermis atau endodermis di bagian luar. Lapisan tersebut dipisah oleh mesoglea, sebuah serabut non seluler bermateri seperti jeli yang tipis di beberapa kelompok seperti hydra namun cukup tebal pada ubur-ubur untuk menolongnya sehingga dapat mengapung.
1. Sel-sel Pembentuk Lapisan Epidermis
Epidermis terdiri dari lima tipe dasar sel, yaitu :
- SelEpitheliomuskular (sel epitel otot) yang mempunyai ciri bagian dasarnya melebar dan menempel pada mesoglea dan berisi myofibril yang kontraktil. Sel ini berfungisi sebagai pelindung tubuh dan otot longitudinal sejajar sumbu oral-aboral.
- Sel Interstitial adalah dasar sel yang dapat membentuk tipe sel lain seperti sperma, sel telur atau cnidosit. Sel ini memiliki berukuran kecil, agak bulat, nukleus besar, dan terletak di antara sel epitel otot. Jadi, sel ini merupakan dasar bagi regenerasi dan perbaikan segala bagian tubuh.
NEMATOSISTA
Salah satu karakteristik yang istimewa dari filum ini adalah tentakel tentakel dipersenjatai dengan cnidosit, sel-sel khas yang berfungsi dalam pertahanan dan penangkapan mangsa. Cnidosit mengandung cnidae. Terdapat tiga jenis utama cnidae: nematosista, spirosit, dan ptychosit. . Cnidae yang disebut nematosista adalah kapsul yang menyegat. Ada 4 tipe nematosista :
1.Tipe Penetrant (stenotele)
Ciri-ciri : - ukuran paling besar
- tidak ada benang yang membelit transversal
- mempunyai tiga duri panjang dan tiga jajaran duri-duri kecil
2.Tipe Streptoline Glutinan atau Holotrichus Isorhiza
Ciri-ciri : - ukuran besar dan silindris
- ujung runcing tempat keluarnya benang yang dapat membelit
- terdapat duri-duri kecil
3.Tipe Stereoline Glutinan atau Atrichous Isorhiza
Ciri-ciri :- ukuran kecil dan oval
- mempunyai satu benang lurus tak berduri
4.Tipe Volvent atau desmonemes
Ciri-ciri : - ukuran paling kecil dan phyriform
- menggunakan benang tebal dan halus dalam bentuk lilitan dapat membelit dengan kuat
Nematosista beserta cnidosit datang dalam 24 bentuk yang berbeda, memainkan fungsi berbeda dari klasifikasi filum ini. Cnidosit adalah sebuah sel yang mengeluarkan nematosista yang berada didalamnya. Dasar nematosista adalah kapsul terbuat dari sesuatu seperti kitin yang menggulung seperti benang. Benang ini dapat ditembakkan untuk menghadapi mangsa atau dalam beberapa kasus berguna untuk menangkis predator. Cnidosit mempunyai flagellum yang termodifikasi dinamakan cnidosil dan tanduk sebagai pemicu sensori. Jika pemicu ini disentuh benang nematosista akan dikeluarkan dengan cepat. Benang nematosista terdiri dari tiga tipe. Bagian yang sangat penting adalah benang tubular tipis dengan duri dibawahnya. meskipun mungkin ada duri dekat dasar juga. Ketika nematosista dikeluarkan, duri menembus kulit mangsa dan racun dapat disuntikkan. Ptichosit jarang ada, terdapat hanya dalam Ceriantharians, mereka tidak memiliki duri tetapi perekat dan dapat digunakan untuk melapisi tabung yang tinggal di Ceriantharians serta melibatkan mangsa. Juga Spirosit duri, mereka adalah tabung yang tertutup perekat, mereka digunakan untuk menjebak mangsa di jaring kusut benang lengket.
- Sel Kelenjar Lendir berfungsi menghasilkan lendir yang digunakan sebagai pelindung, untuk menagkap mangsa dan melekat pada substrat.
- Sel Sensori (sel indera) memiliki bentuk panjang langsing dan tegak lurus epidermis. Pangkal sel indera berhubungan dengan sel saraf yang tersusun seperti jala pada epidermis dekat mesoglea.
-Sel Saraf berbentuk mirip multipolar neuron. Sel ini terletak pada dasar epitel otot dan sejajar mesoglea.
2. Sel-sel Pembentuk Lapisan Gastrodermis
Gastrodermis terdiri dari beberapa macam sel, antara lain :
-Sel Otot Pencerna (nutritive muscle cells) yang berflagela berfungsi untuk pencernaan dan sebagai otot yang berkerja tegak lurus terhadap sumbu oral-aboral, membentuk lapisan otot melingkar.
-Sel Kelenjar Enzim menghasilkan enzim untuk pencernaan di dalam rongga gastrovaskuler.
-Sel Kelenjar Lendir (mucus secreting cells) banyak terdapat di sekitar mulut.
KebanyakanCnidaria juga memiliki nematosista dalam gastrodermisnya, tetapi hanya Hydra yang tidak. Pada jenis Hydra, dalam gastrodermis terdapat zoochlorella yang hidup bersimbiosis, hingga warna Hydra menjadi hijau cerah
FISIOLOGI
1.Pergerakan
Gerakan pada polip biasanya terbatas, merayap atau meliuk-liuk karena menempel pada substrat. Tubuh polip seperti Hydra dapat memanjang dan memendek atau melengkung ke berbagai arah. Bila hydra dengan ukuran sekitar 8 mm mengambil air dan mengisi rongga gastrovaskulernya, tubuhnya dapat memanjang sampai 20 mm, namun pada sat air dikeluarkan, tubuh dapat memendek hingga berukuran 1 mm. Medusa dapat berenang bebas. Medusa berenang dengan jalan berdenyut, yang dihasilkan oleh otot melingkar pada tepi lonceng, dan meghasilkan getaran vertikal. Sedangkan gerakan horizontal tergantung pada arus laut, kecuali pada beberapa jenis Cubozoa.
2.Makanan dan Pencernaan
Kebanyakan Cnidaria adalah karnivora. Jenis makanannya adalah crustacea dan ikan kecil. Cara mendapatkan makanannya adalah menggunakan tentakel biasanya dengan nematosista. Bila bahan makanan ditangkap, tentakel memindahkannya ke mulut. Kemudian makanan masuk ke dalam rongga gastrovaskular. Pencernaan dilakukan secara ekstraseluler dengan mensekresi enzim semacam tripsin untuk mencerna protein oleh sel kelenjar enzim pada gastrodermis. Makanan akan hancur menjadi partikel-partikel kecil seperti bubur dan dengan gerakan flagela diaduk secara merata. Sel otot pencerna mempunyai pseudopodia untuk menangkap dan menelan partikel makanan, dan pencernaan dilanjutkan secara intraseluler. Hasil pencernaan didistri-busikan ke seluruh tubuh secara difusi. Cadangan makanan berupa lemak dan glikogen. Sisa makanan yang tidak terpakai dibuang melalui anus.
3.Pernapasan dan eksresi
Alat pernapasan dan alat eksresinya khusus tidak ada. Proses yang terjadi adalah pertukaran gas secara difusi melalui seluruh permukaan tubuhnya. Sisa metabolisme juga dibuang secara difusi melalui seluruh permukaan tubuh.
4.Sistem saraf
Respon saraf dalam cnidaria dikontrol oleh jaringan difusi dari antar penghubung sel saraf yang dinamakan net saraf. Dalam banyak cnidaria, net saraf didistribusikan secara melalui seluruh tubuh. Mereka tidak mempunyai otak atau struktur yang mengontrol istirahat dari net saraf. Tapi dalam bentuk medusa dari beberapa cnidaria seperti ubur – ubur, beberapa dari sel saraf
Net saraf memudahkan cnidaria untuk menanggapi stimuli tertentu di lingkungannya. Sebagai contoh, ketika sel di epidermis disentuh, mereka menyampaikan sebuah sinyal untuk sel saraf. Sel saraf memancarkan sinyal tersebut melalui net saraf menuju sel kontraktil, yang mana dapat menyebabkan hewanmenarik kembali dari stimulus. Di cnidaria dengan net saraf sederhana, stimulus dimanapun pada tubuh menyebabkan sinyal dikirim melalui net saraf dalam sebuah petunjuk. Sinyal ini memberikan kontraksi dari seluruh tubuh.
Net saraf juga mengkoordinasikan aktivitas komplek dari tubuh yang dibutuhkan untuk makan dan berjalan melewati lingkungan. Perpindahan melalui tentakel membawa mangsa ke mulut dan mendorongnya menuju rongga gastrovaskuler dikontrol oleh net sarafketika kontraksi ritmik dari tubuh yang medusa berenang melalui air.
REPRODUKSI
Cnidaria berkembang biak secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual terjadi pada stadium polip dan dilakukan dengan jalan pertunasan (budding), pembelahan atau pencabikan telapak kaki. Suatu tunas terjadi dari dinding tubuh yang menonjol keluar diikuti perluasan rongga gastrovaskular, kemudian pada ujungnya terbentuk mulut dan tentakel. Reproduksi aseksual dimungkinkan terjadi karena kebanyakan Cnidaria mempunyai daya generasi yang besar. Tentakel yang putus akan diganti dengan yang baru.
Reproduksi seksual umumnya terjadi pada tahap medusa. Sel telur atau sperma sebagian besar berasal dari sel interstisial yang mengelompok sehingga membentuk ovari atau testis. Bentuk, ukuran dan daur hidup jenis-jenis Cnidaria sangat beraneka ragam hingga dikelompokkan menjadi 4 kelas.
PEMBAGIAN KELAS
1.Hydrozoa
Bentuk umum
Ciri-ciri : - hidup di laut, berukuran kecil
- menempel pada substrat karang atau koral
- mesoglea tidak pernah selular
- gastrodermis tidak mengandung nematosista
- gonad umumnya epidermal
Polip :- ada yang bersifat soliter atau koloni
- pada koloni, epidermis, mesoglea, dan gastrodermis bersambung-an sehingga sulit dibedakan batas antara hydrant, yaitu bagian oral yang mempunyai mulut dan tentakel, serta hydrocaulus yaitu bagian tangkai polip.
- berukuran umumnya kecil-kecil, hanya setinggi beberapa sentimeter dan masing-masing polip hanya beberapa milimeter.
- warna bervariasi dari putih, kesumba, jingga atau kecoklatan
- epidermis dari bangsa Milleporinadan stylasterina menghailkan rangka luar dari zat kapur sehingga bagian tubuhnya tertutup lapisan kapur yang keras kecuali polipnya.
Medusa : - umumnya kecil-kecil
- berdiameter 0,5-6,0 cm
- tepi lonceng lekuk ke dalam disebut velum
- tentakel dilengkapi nematosit terdapat pada tepi lonceng, berjumlah 4 buah atau lebih
- mulut terletak pada ujung manubrium di tengah subumbrella
- mesoglea tebal, jernih seperti agar-agar dan merupakan bagian terbesar dari medusa
Sistem Saraf
Sistem saraf pada medusa lebih tinggi daripada polip. Sel saraf pada tepi lonceng tersusun dalam dua cincin saraf, atas dan bawah. Bagian bawah berfungsi sebagai pusat gerak berdenyut. Tepi lonceng juga dilengkapi sel-sel indera dan dua macam organ indera, yaitu ocelli dan statosit. Ocellus sebagai fotoreseptor. Statosit berfungsi sebagai organ keseimbangan.
Reproduksi dan Daur Hidup
Reproduksi pada semua medusa adalah seksual. Dan kebanyakan dioecious. Telur dari sperma terbentuk dari sel interstisial epidermis dibawah kanal. Pembuahan eksternal terjadi di air laut, pembuahan internal terjadi pada permukaan manubrium atau gonad. Telur yang dibuahi menetas menjadi blastula. Lalu gastrula memanjang menjadi larva planula yang bersilia. Setelah berenang bebas beberapa jam sampai beberapa hari, larva planula menempel ada benda atau substrat dan tumbuh menjadi polip. Polip tersebut melakukan pertunasan sehingga menghasilkan polip-polip baru yang tetap menempel pada polip induk, sehingga terbentuk suatu koloni hidroid. Gonozooid secara aseksual menghasilkan beberapa bakal medusa, kemudian dilepas ke air sebagai ubur-ubur (medusa) kecil, berenang bebas untuk kemudian tumbuh menjadi dewasa. Pergiliran reproduksia seksual pada tahap medusa dan aseksual pada tahap polip yang seperti penjelasan di atas dinamakan metagenesis.
2.Anthozoa
Anthozoa artinya binatang bunga. Pada umumnya tubuh berbentuk polip. Hewan ini memiliki tentakel dalam jumlah banyak, tentakel inilah yang berwarna-warni nampak seperti bunga mawar. Anthozoa sering disebut sebagai anemon laut. Diantara anggota Anthozoa ada yang dapat menghasilkan kerangka dari kapur yang keras. Kerangka inilah yang membentuk terumbu karang atau pulau karang.
Polip Anthozoa berbeda dengan polip Hydrozoa, karena mulutnya berhubungan dengan pharynx (gullet, kerongkongan). Rongga gastrovaskuler terbagi oleh sekat-sekat longitudinal (septa) menjadi beberapa kamar. Gastrodermis pada sekat mengandung nematosista dan gonat. Hidup sebagai polip soliter atau koloni, dalam daur hidupnya tidak ada tahap medusa.
3.Cubozoa
Sebelum tahun 1980 Cubozoa termasuk dalam kelas Scyphozoa sebagai ordo Cubomedusae atau Carybdeida, atas dasar beberapa persamaan anatomi, fisiologi, dan daur hidupnya. Kemudian merupakan kelas tersendiri, karena dalam beberapa hal mempunyai persamaan dengan Hydrozoa.
Bentuk Umum Medusa
Lonceng Cubozoa adalah kotak dalam sisi horizontal. Di dalam lonceng terdapat manubrium dan mulut. Jaringan penutup yang dinamakan velarium terletak di bagian bawah lonceng. Otot dinamakan pedalia yang berlokasi pada sudut dari lonceng. Satu atau lebih tentakel terhubung pada tiap pedalium. Hal itulah yang menjadi dasar untuk membagi dua kelompok dalam Cubozoa yaituChirodropidae dan Carybdeidae.Carybdeidae selalu mempunyai satu tentakel tiap pedalium, sedangkan Chirodropidae mempunyai banyak tentakel yang menempel tiap pedalium. Seperti jenis Cnidaria yang lainnya, cubozoa disusun dari dua lapisan sel, ektodermis dan endodermis. Usus atau rongga perut oleh septa dan menjulurkan tentakel melalui kanal pedalium. Pada lonceng, yang terletak pada pertengahan antara pedalia, adalah empat struktur sensori yang dinamakan rhopalia.
Struktur Sensori Cubozoa
Jika melihat bagian dalam dari rho-paliar pada gambar di sebelah kanan ini akan terlihat bahwa Cubozoa memiliki mata. Dari gambar detail di bawah ini, akan terlihat enam titik kemerahan. Semuanya sangat sensitif terhadap cahaya. Empat titik terkecil relatif sederhana. Tetapi dua daerah yang lebih besar terdiri dari lensa, cornea, dan retina namun tidak seperti mata pada manusia. Namun masih belum jelas bagaimana gambar dapat tercipta oleh lensa diinterpretasikan oleh Cubozoa karena mereka tidak mempunyai otak. Di dalam rhopalium, terletak di bawah mata, adalah sebuah organ yang dinamakan statosit. Di dalam tiap statosit terdapat bintil keras yang disusun dari kalsium sulfat dinamakan statolit. Statolit menunjukkan lingkaran pertumbuhan sehari-hari. Statosit sangat sensitif pada orientasi dan oleh karena itu, memberikan Cubozoa rasa apakah mereka sedang bergerak naik-turun, miring atau kiri-kanan.
Sel Menyengat Cubozoa
Seperti halnya jenis Cnidaria yang lain, Cubozoa dilengkapi dengan nematosista, sel yang yang menembakkan duri dan trasfer venom. Seperti gambar di sebelah kanan duri digulung dalam sebuah kapsul. Ketika nematosista menyentuh sesuatu yang mungkin mangsa atau predator, duri terurai dan menembakkan dari kapsul sepanjang venom.
Larva dan Polip Cubozoa
Tahap ini tidak terlalu diketahui dari Cubozoa. Faktanya hingga tahun 1870 bahwa siklus hidup Cubozoa masih diteliti. Larva Cnidarian dinamakan planula. Planula Cubozoa berbentuk pir mempunyai titik pigmen yang sensitif terhadap cahaya dan berenang selama beberapa hari menggunakan silia. Setelah planula lalu tumbuh menjadi polip. Polip Cubozoa dapat merangkakseperti cacing. Bentuknya secara relatif sederhana. Tahap itu mempunyai mulut dikelilingioleh 24 tentakel. Polip tidak benar-benar menyarupai polip scyphozoa. Perbedaan ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan evolusi dengan scyphozoa.
4.Scypozoa
Ciri-ciri :
Medusa : - merupakan ubur-ubur sejati
- berukuran relatif lebih besar dengan diameter antara 2-40 cm atau lebih, bahkan pada Cyanea capillata sampai 2 m.
- berwarna menarik seperti jingga, kesumba atau kecoklatan
- terdapat di semua lautan dari Laut Artik sampai laut tropis
- bentuk pipih seperti piring sampai membulat seperti helm
- tepi lonceng berlekuk-lekuk
- manubrium bercabang 4 dan memanjang menjadi 4 buah oral arm untuk menangkap mangsa.
- tidak mempunyai velum
- jumlah tentakel 4 atau lebih
Pencernaan
Sistem saluran gastrovaskular terdiri atas mulut, manubrium, perut pusat yang bercabang membentuk empat kantung perut, masing-masing dibatasi sekatan yang disebut septum.
Sistem Saraf
Sistem saraf tersusun seperti jala dan sinaptik. Cicin saraf hanya dimikliki oleh bangsa Coronnatae, sedang pada jenis lain gerak berdenyut dikendalikan oleh pusat saraf tepi lonceng, berjumlah empat sampai enam belas. Pusat saraf terletak dalam rhopalium yamg berbentuk seperti benjolan kecil
2.4 Ekologi
Kebanyakan Cnidaria bentuk polip memerlukan substrat padat untuk tempat menempel, meskipun beberapa bersembunyi dalam sedimen lembut dan memperpanjang mahkota tentakelnya di permukaan laut. Polip berlimpah di perairan dangkal tetapi anemon laut hidup daerah laut dalam. Medusa mempertahankan hidupnya di dalam air dan terbawa oleh arus. Beberapa jenis seperti Hydomedusae dan scyphomedusae hidup di permukaan air, umunya di teluk dan sepanjang pantai, sedangkan yang lainnya berlimpah di laut terbuka .
Cnidaria tidak lepas dari predator yang akan memangsanya. Hydroid menjadi korban gigitan nudibranch melalui kerangka chitiusnya. Mahkota dari duribintang laut, Acanthaster planci, melepaskan enzim pencernaan dan kemudian menyerap jaringan cairnya. Kupu-kupu dan ikan yang makan karang menjadi kebal terhadap efek nematosista dan juga kura-kura yang memakan pelagis scyphomedusae. Untuk menghadapi ancaman seperti ini, banyak kjenis Cnidaria telah berevolusi dengan memiliki pertahanan kimia yang unik sehingga secara efektif mencegah predator untuk memangsanya.
Cnidarians masuk ke dalam kompleks asosiasi dengan berbagai organisme lain, termasuk uniseluler ganggang, ikan, dan udang-udangan. Banyak dari hubungan ini, seperti yang dengan zooxantheallae dan zoochlorellae, adalah simbiosis mutualisme yaitu, hubungan yang saling menguntungkan antar kedua pasangan. Banyak Cnidaria terutama Anthozoa yang menggantungkan diri pada zooxantheallae simbiosis dari jenis Dinoflagellates dalam jaringan untuk bertahan hidup. Beberapa Cnidaria benar-benar tergantung pada zooxantheallae, lainnya menangkap mangsa dan juga menambah nutrisi atau makanannya pada zooxantheallae. Banyak karang sangat tergantung pada zooxanthella tidak dapat hidup dalam kegelapan yang berkepanjangan, itulah sebabnya terumbu karang hanya berkembang di dangkal, perairan yang banyak menerima cahaya. Contohnya adalah koral scleractinian. Koral scleractinian menerima nutrien dan sumber energi dalam dua cara. Mereka menggunakan cara tradisional menagkap organisme plankton kecil dengan nematosista yang berada di tentakel dan bersimbiosis dengan algae bersel satu bernama zooxantheallae. Zooxantheallae merupakan mikroalgae autropik yang termasuk dalam filum Dinoflagellates. Zooxantheallae hidup bersimbiosis dalam jaringan polip koral dan memberikan koral produksi nutrisi melalui aktifitas fotosintesisnya. Aktifitas inimemiliki manfaat bagi koral dengan melepaskan senyawa karbon untuk meningkatkan kalsifikasi. Sedangkan polip koral juga memberi keuntungan bagi zooxantheallae dengan memberikan proteksi lingkungan agar dapat hidup didalamnya dan menyediakan karbondioksida dari hasil respirasi Cnidaria untuk proses fotosintesisnya. Bagian tubuh koral yang berwarna cantik sebenarnya bukan berasal dari jaringan pada koral tetapi merupakan hasil dari simbiosis zooxantheallae yang hidup pada jaringan mereka.
Salah satu simbiosis mutualisme lainnya adalah 10 jenis anemone tropis dengan 26 jenis ikan anemon (ikan badut). Ikan ini hidup di dalam perlidungan tentakel anemon, tempat yang dijadikan perlindungan ketika pemangsa mengancam. Ikan anemon dapat kebal terhadap sengatan nematosista karena terdapat lapisan lendir yang menutupi tubuh mereka. Tanpa itu, mungkin ikan tersebut akan tersengat sampai mati dan dimakan oleh anemon. Sedangkan ikan anemon mengusir pergi ikan-ikan lain yang akan memangsa anemon.
III. PERAN / MANFAAT
1. Koral atau karang laut
Koral dari kelas Anthozoa berfungsi sebagai komponen utama pembentuk ekosistem terumbu karang. Seperti yang telah kita ketahui terumbu karang memainkan peran penting dalam kehidupan di lautan. Banyak makhluk hidup yang tergantung padanya. Contoh : berbagai jenis ikan, ganggang dan hewan laut lainnya yang memanfaatkan terumbu karang sebagai tempat hidupnya. Selain itu, keindahan terumbu karang dapat dijadikan objek wisata yang menghasilkan devisa bagi negara. Karang di pantai juga dapat menahan ombak untuk mencegah pengikiksan pantai.
2. Beberapa jenis Cnidaria diperjualbelikan sebagai hewan hias untuk akuarium laut hingga diekspor ke Singapura, Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Beberapa Jenis-jenis Cnidaria tersebutadalah :
- Actinaria Equima, ordo Actinaria, diameter 4-8 cm, merah tua.
- Anemonia sulcata, ordo Actinaria, putih ungu.
- Bunodactis verrucosa, ordo Actinaria, diameter 6-7 cm, putih merah.
- Fungia actiniformis, ordo Madreporaria, karang piring.
- Alcyonium palmatum, ordo Alcyonacea, karang oranye.
3. Untuk dikomsumsi dan diperdagangkan sebagai ubur-ubur asin, contohnya adalah jenis Scyopozoa yang tidak beracun yaitu Rhopilema Esculata, Rhizostoma Octopus dan Pelagia Noctiluca. Ubur-ubur asin tersebut diekspor ke Jepang, Taiwan, Malaisya dan Singapura. Pengawet ubur-ubur asin ialah garam dan tawas. Ubur-ubur asin dimakan sebagai campuran rujak / asinan, salad, mie, acar dan gulai.
4. Kerangka koral digunakan sebagai material bangunan untuk membuat semen
5. Kerangka Cnidaria juga dibuat sebagai perhiasan. Warna pink yang dikenal seba-gai ”koral” adalah corak warna kerangka dari jenis hydrokoral. Hydrokoral lainnya mempunyai kerangka keunguan dan mereka paling diinginkan dan dapat dijual dengan harga tinggi. Beberapa jenis seperti cambuk laut dan karang hitam dipotong atau dibengkokkan menjadi manik-manik dan gelang.
BAB
III. PENUTUP
Kesimpulan
Hewan Cnidaria termasuk hewan invertebrata yang terdiri dari dua lapisan sel yaitu ektodermis dan endodermis. Cnidaria merupakan hewan kantong, memiliki rongga tubuh yang digunakan sebagai usus (gastrovaskuler). Hidup di air tawar atau laut, memiliki dua siklus hidup yaitu polip dan medusa. Filum ini dapat melekat didasar dengan bagian kakinya, disebelah atas terdapat mulut, disekeliling mulut terdapat tentakel. Pada tentakel terdapat knidoplas atau nematosista.
Cnidaria tidak memiliki pembuluh darah, tidak memiliki sistem eksresi, memiliki sistem saraf sederhana, tidak berkepala sehingga tidak memiliki sistem susunan saraf pusat, dan pertukaran gas dilakukan melalui seluruh permukaan tubuhnya. Cnidaria dibagi menjadi 4 kelas, yaitu : Hydrozoa, Scyphozoa, Anthozoa, dan Cubozoa.
Fautin, Daphe G. dan Sandra L. Romano.1997. Cnidaria. Sea anemones, corals, jellyfish, sea pens, hydra. http://tolweb.org/Cnidaria/2461/1997.04.24. (diakses tanggal 6 Februari 2010)